Wednesday, 2 April 2014
Pidato Kemenangan Erdogan: “Rakyat Turki Adalah Harapan Umat Islam.”
AK-Parti berhasil memenangkan pemilu lokal yang diadakan pada Ahad kemarin. Berikut transkip pidato kemenangan perdana menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan seperti dimuat dalam blog resmi beliau, Kamis (3/4/2014) hari ini.
“Ini adalah hari kebahagiaan bagi Turki Baru. Ini adalah hari kemenangan bagi Turki Baru, hari kemenangan bagi 77 juta rakyatnya yang saling mencintai dan mendukung.
Hari ini adalah hari kemenangan untuk fase perdamaian dan persaudaraan internal, kemenangan untuk target-target Turki tahun 2023, dan kemenangan bagi seluruh rakyat baik yang memberikan suaranya kepada kami atau kepada oposisi.
Aku menghormati dan memeluk semua rakyat Turki yang berjumlah 77 juta jiwa dan tersebar di 81 provinsi. Rakyat inilah yang menjadi harapan umat Islam.
Aku berdoa agar rakyat Turki tidak dijauhkan dari jalan kebenaran, agar dihindarkan dari tipu daya, makar, dan rencana jahat.
Dengan pemilu, suara rakyat telah berhasil mengubur tangan-tangan yang berusaha mengganggu kemerdekaan negara ini.
Hasil pemilu telah membuktikan bahwa politik kotor, politik rekaman rekayasa, dan pembocoran rahasia negara, telah gagal di Turki. Politik itu juga akan gagal selamanya.
Hari ini, merugilah pihak-pihak yang menginginkan terjadinya kudeta militer di Turki. Rugilah mereka yang ingin Turki mundur ke masa-masa dulu. Turki tidak akan tunduk dengan keinginan mereka; rakyat Turki tidak akan menyerah.
Aku sudah katakan bahwa aku akan meninggalkan dunia politik jika partai tidak menang. Aku tantang para pemimpin partai yang lain untuk berjanji serupa, tapi mereka tidak mau melakukan. Kami akan tetap menjadi pelayan bagi rakyat, bukan tuan mereka. Saat ini aku katakan kepada oposisi, marilah kita buka lembaran baru demi kebaikan dan kelestarian Turki.
Wahai orang yang sedang berada di Pennsylvania (menunjuk Fethullah Gulen), engkaulah pemimpin negara parallel dan media yang anti pemerintah, bukanlah kalian pernah mengatakan sebagai pendukung demokrasi? Inilah demokrasi yang telah mengantarkan AK-Parti kembali ke pemerintahan. Apa yang kalian lakukan dalam berpolitik di Turki hanyalah menyebar fitnah dan kerusakan.
Proses peradilan akan dijalankan kepada pihak-pihak yang terbukti membocorkan rahasia negara secara ilegal. Inilah saatnya kita cerabut negara paralel dengan akar-akarnya sesuai dengan perundangan.
Aku berdoa semoga para pemenang dalam pemilu ini mendapatkan kesuksesan dalam memimpin wilayahnya masing-masing. Semoga Allah swt. melindungi umat Islam di Turki. Aku juga mengirim salam hormat kepada seluruh saudara dan rekan di seluruh dunia.
Aku berterima kasih kepada orang-orang yang selalu memperjuangkan Palestina, kepada rakyat Palestina yang meyakini bahwa kemenangan kami adalah juga kemenangan mereka. Aku berterima kasih kepada saudara-saudaraku di Mesir yang masih memperjuangkan demokrasi, mereka sangat memahami perjuangan kami.
Aku juga berterima kasih kepada saudara-saudaraku yang sedang terzhalimi di Suriah, yang saat ini hidup dalam kelaparan, di bawah serangan bom dan peluru, mereka selalu mendoakan kemenangan AK-Parti.
Tak lupa aku berterima kasih kepada saudara-saudaraku di Balkan yang turut mengadakan pesta kemenangan untuk kita, mulai dari Bosnia, Macedonia, Kosovo dan seluruh kota di Eropa.
Aku berterima kasih kepada semua orang yang menengadahkan tangan ke langit, berdoa bagi keselamatan dan perjuangan Turki. Tapi yang jelas, terima kasihku yang terbesar adalah untuk rakyat Turki.” (msa/dakwatuna)
Labels:
Alam Islami
Sedikit Jargon, Banyak Prestasi; Kunci Kemenangan Erdogan
Hasil pemilu lokal sementara di Turki dimenangkan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), partainya Erdogan. Pemilu di Turki digelar di tengah suasana politik cukup panas. Lawan-lawan politik Erdogan gencar menggoyang pemerintahan yang dipimpinnya. Bahkan aksi penggoyangan itu berhasil menurunkan tingkat elektabilitas partai Keadilan dan Pembangunan. Namun lawan-lawan politik dibuat tercengang dengan hasil sementara pemilu yang menempatkan Erdogan di urutan pertama. Lantas apa rahasia kemenangan Erdogan?
Kemenangan beruntun AKP dan Erdogan selama pemilu 10 tahun terakhir sebagai bukti ia berhasil mengobat berbagai krisis. Erdogan tak mengandalkan kharismatiknya, apalagi menggunakan tindakan represif untuk mengontrol kekuasaannya. Sebab ia yakin bahwa capaian dan prestasi partainya akan menjamin kemenangannya. Sebab prestasi itu riil dan terbukti nyata, bukan sekadar jargon simbolik, janji-janji kering, sebut pengamat politik Palestina, Lami Khatir.
Meski pengalaman AKP dan lompatan-lompatan serta stategi di Turki tidak serta merta bisa diadopsi di negeri lain, namun spirit eksperimen Erdogan layak dijadikan studi dan riset panjang dan dalam. Bukan hanya sekadar melihat dari kulit luar dan simbolik AKP saja yang bukan merupakan titik fokus kebangkitan dan prestasinya.
Erdogan dan partinya layak menang dan dipercaya oleh rakyatnya karena lebih mementingkan prestasi pembangunan di lapangan ketimbang mengedepankan simbolik dan jargon serta janji-janji seperti kebanyakan para pemimpin kita. “Biarlah tindakan saya yang bicara agar itu bisa menggagalkan segala konspirasi yang mengelilinginya.”
Kemenangan Erdogan selama sepuluhh tahun factor utamanya bukan karena identitas Islam partai AKP. Apalagi selama ini AKP dikenal bertarung sengit dengan partai sekuler ekstrim di tengah masyarakat yang kehilangan identitasnya dalam jangka panjang. Namun kemenangan AKP karena selama ini mereka menanam dan mereka memetik hasilnya. Menanam pembangunan dan keadilan seperti namanya.
Ketika dituding oleh lawan politiknya dengan kasus korupsi, tindakan represif, dan kinerja pemerintah yang buruk, Erdogan siap mengembalikan satu poin dengan dua poin. Namun ia memilih menggunakan pendekatan hukum dan mesin politik yang fair.
Ke depan, Erdogan akan fokus membersihkan lembaga negara dari sisa-sisa politik lama, mafia politik, ekonomi dan keamanan. Ia akan fokus membangun stabilitas negara. (bsyr/pip)
Labels:
Alam Islami
Inilah Partai Politik yang Sesuai Kriteria Aa Gym
Masa pencoblosan sebentar lagi. Semua partai terus berupaya mencuri hati masyarakat agar bisa memilih mereka di 9 April mendatang. Akan tetapi, dengan kondisi perpolitikan yang carut marut membuat masyarakat tidak percaya pada para politisi yang ada. Walaupun begitu, bukan berarti hal itu membuat kita pesimis sehingga bersikap acuh tak acuh, apatis dan lebih memilih golput pada pemilu nanti. Bagaimana mungkin akan ada perubahan di negeri ini jika kita sebagai pemberi suara dalam pemilu tidak melakukan perubahan dalam cara menentukan keputusan, golput atau memilih partai tertentu. Kita harus optimis dan yakin seyakin para pejuang’45 yang menginginkan kemerdekaan dari tangan penjajah dengan perjuangan yang tanpa lelah. Karena harapan itu selalu masih ada.
Golput atau tidak?
Apalah Arti Sebuah Golput? Sepertinya tulisan di link tersebut telah panjang lebar menjelaskan bahwa ternyata golput bukanlah solusi di era demokrasi saat ini. Jadi, golput bukanlah pilihan yang bijak kecuali kalau diri kita terlalu egois pada diri sendiri dan acuh pada negeri tampat kita hidup dan dibesarkan.
Partai apa?
Selanjutnya adalah bagaimana kita memilih partai dari sekian banyak pilihan yang ada. Agar lebih berbobot,objektif dan berkualitas dalam menentukan pilihan maka kita perlu sebuah kriteria dalam memilih. Mungkin kriteria yang disampaikan oleh Aa Gym ini bisa menjadi acuan bagi kita semua.
Seperti yang di twitt-kan Aa Gym melalui akunnya @aagym bahwa ada 3 kriteria untuk memillih parpol di pemilu 9 April nanti yaitu:
Paling sedikit melakukan pelanggaran
Banyak patuh pada peraturan
Tidak tergantung pada figur
Golput atau tidak?
Apalah Arti Sebuah Golput? Sepertinya tulisan di link tersebut telah panjang lebar menjelaskan bahwa ternyata golput bukanlah solusi di era demokrasi saat ini. Jadi, golput bukanlah pilihan yang bijak kecuali kalau diri kita terlalu egois pada diri sendiri dan acuh pada negeri tampat kita hidup dan dibesarkan.
Partai apa?
Selanjutnya adalah bagaimana kita memilih partai dari sekian banyak pilihan yang ada. Agar lebih berbobot,objektif dan berkualitas dalam menentukan pilihan maka kita perlu sebuah kriteria dalam memilih. Mungkin kriteria yang disampaikan oleh Aa Gym ini bisa menjadi acuan bagi kita semua.
Seperti yang di twitt-kan Aa Gym melalui akunnya @aagym bahwa ada 3 kriteria untuk memillih parpol di pemilu 9 April nanti yaitu:
Paling sedikit melakukan pelanggaran
Banyak patuh pada peraturan
Tidak tergantung pada figur
Paling sedikit melakukan pelanggaran. Karena saat ini yang paling di soroti di negeri adalah masalah korupsi maka cukuplah tolak ukurnya adalah indeks korupsi.
Dari grafik ini menunjukkan bahwa partai yang paling sedikit melakukan korupsi adalah PKS bahkan termasuk yang paling kecil merugikan negara (jauh jika dibandingkan dengan partai yang lainnya)
Banyak patuh pada peraturan. Seperti dengan poin sebelumnya, yang kita soroti masih seputar korupsi yaitu partai mana yang serius menjaga kader-kadernya agar tercegah dari tindak korupsi.
Track record suatu partai adalah kunci kita saat ini untuk melakukan perubahan. Dari antusiasme kader-kader partai agar terhindar dari korupsi maka lagi-lagi PKS menjadi yang terbaik karena betapa besarnya gratifikasi yang dilaporkan padahal PKS hanya partai menengah dan kader-kadernya pun pro aktif dalam melaporkan kekayaannya.
Tidak tergantung pada figur. Kita akan melihat dari sisi berapa banyak caleg dari semua partai yang mengusung artis. Memang tidak salah dengan pencalegkan artis tetapi adanya ketidakberjalanan kaderisasi di partai.
Dari semua partai, ternyata bahwa hanya PKS yang tanpa caleg artis. Itu menunjukkan bahwa betapa selektifnya mereka menentukan caleg. Disisi lain, sebagai bukti bahwa kaderisasi PKS sangat berjalan. jadi, wajar kalau banyak yang menyebut partai ini adalah partai kader bukan partai figur.
Dari semua kriteria yang ada dari Aa Gym ini maka kita akhirnya mendapat satu partai yaitu PKS. Selanjutnya tinggal kita saja mau memilihnya atau tidak. Pokoknya adalah kinerja DPR periode berikutnya akan berubah jika kita melakukan perubahan dalam proses menentukan pilihan. Tugas kita hanyalah berusaha dengan sebaik-baiknya,selanjutnya biarlah takdir yang berperan. Dan jangan lagi berpikir akan golput kecuali kalau kita memang terlalu egois pada diri sendiri dan acuh pada negeri tempat kita hidup dan dibesarkan.(jangjaya06/kompasiana)
Labels:
Opini
Daun-Daun yang Berenang
Sepintas, mereka mungkin terlihat seperti daun kering dan mati, namun, jika dilihat dari dekat, akan terlihat bahwa benda-benda ini sebenarnya jauh dari kering, apalagi mati, dan bukan vegetasi tua. Bahkan, gumpalan kecil ini cukup hidup. Benda-benda ini adalah ikan, dan pewarnaan serta bentuknya terstruktur dengan cara ini karena mereka dimaksudkan untuk menyerupai daun yang mengambang.
Tapi mereka tidak hanya terlihat seperti daun, mereka bahkan bertindak seperti mereka. Ikan-ikan ini sering menghadap ke bawah, sehingga mereka terlihat seperti daun mati yang mengambang dan melayang di air. Penonjolan pada ujung wajah mereka (hidung memanjang mereka) menambah ilusi ini. Ini lebih menyerupai batang daun , yang melengkapi penyamaran ketika ikan miring dengan cara menghadap ke bawah tersebut.
Ikan-ikan yang berkamuflase seperti daun ini disebut Monocirrhus polyacanthus, atau Ikan daun Amerika Selatan. Ikan ini umumnya ditemukan di Amerika Selatan, khususnya mereka membuat rumah mereka di lembah Sungai Amazon di Peru, Brazil, Bolivia, Columbia, dan Venezuela. Dan meskipun mereka mungkin terlihat agak kecil dan sederhana, mereka benar-benar bisa agak menakutkan.
Kamuflase tidak hanya melindungi ikan daun dari predator, ia juga memungkinkan ikan untuk menyembunyikan dirinya sehingga bisa menyelinap tanpa disadari mangsanya. Bahkan, ikan daun tidak benar-benar perlu melakukan penyelinapan sama sekali (karena mereka tersamarkan), melainkan ikan hanya mengapung di air menunggu mangsanya untuk berenang mendekat. Setelah mangsa cukup dekat, ikan daun merubah mulutnya menjadi vakum virtual. Dengan demikian, ia mengisap mangsanya dan menelannya bulat-bulat. Ikan daun mampu melakukan hal ini dengan mulus karena mereka memiliki mulut protractile. Ini berarti bahwa ikan dapat memperpanjang mulutnya.
Ingin melihat mereka beraksi? Lihatlah video dibawah ini pada menit ke 2:23. Mereka dapat menelan mangsanya dalam seperempat detik, keren bukan?!
(sumber)
Tapi mereka tidak hanya terlihat seperti daun, mereka bahkan bertindak seperti mereka. Ikan-ikan ini sering menghadap ke bawah, sehingga mereka terlihat seperti daun mati yang mengambang dan melayang di air. Penonjolan pada ujung wajah mereka (hidung memanjang mereka) menambah ilusi ini. Ini lebih menyerupai batang daun , yang melengkapi penyamaran ketika ikan miring dengan cara menghadap ke bawah tersebut.
Ikan-ikan yang berkamuflase seperti daun ini disebut Monocirrhus polyacanthus, atau Ikan daun Amerika Selatan. Ikan ini umumnya ditemukan di Amerika Selatan, khususnya mereka membuat rumah mereka di lembah Sungai Amazon di Peru, Brazil, Bolivia, Columbia, dan Venezuela. Dan meskipun mereka mungkin terlihat agak kecil dan sederhana, mereka benar-benar bisa agak menakutkan.
Kamuflase tidak hanya melindungi ikan daun dari predator, ia juga memungkinkan ikan untuk menyembunyikan dirinya sehingga bisa menyelinap tanpa disadari mangsanya. Bahkan, ikan daun tidak benar-benar perlu melakukan penyelinapan sama sekali (karena mereka tersamarkan), melainkan ikan hanya mengapung di air menunggu mangsanya untuk berenang mendekat. Setelah mangsa cukup dekat, ikan daun merubah mulutnya menjadi vakum virtual. Dengan demikian, ia mengisap mangsanya dan menelannya bulat-bulat. Ikan daun mampu melakukan hal ini dengan mulus karena mereka memiliki mulut protractile. Ini berarti bahwa ikan dapat memperpanjang mulutnya.
Ingin melihat mereka beraksi? Lihatlah video dibawah ini pada menit ke 2:23. Mereka dapat menelan mangsanya dalam seperempat detik, keren bukan?!
(sumber)
Labels:
Tahukah Anda
Golkar, PDIP dan PKS 3 Besar Pemilu 2014
Oleh : Saepuddin Sae
Pertarungan Sengit Pemilu 2014
Pemilu 2014 dinilai oleh banyak pihak sebagai pertarungan sengit dan dinamis dibandingkan pemilu sebelumnya. Ada 3 alasan mengapa pemilu kali ini menyedot perhatian banyak pihak termasuk luar negeri yaitu sebanyak 34 negara siap untuk memantau dan menyukseskan pemilu?
Pertama, fase demokrasi telah dilalui kurang lebih 15 tahun dan semua partai telah terlibat penuh dalam proses politik dan demokrasi bersama kekuatan idiologi, platform dan programpartainya baik melalui lembaga legislatif, eksekutif dan program program sosial lainya selalam kurun waktu itu. Dalam fase ini seluruh partai teruji dalam menempuh persaingan sengit hingga berakhir pada titik pemilu 2014. Tentu, masing masing partai memiliki angka prestasi yang bervariasi baik dari sisi pengkaderan, soliditas, program dimasyakakat, perolehan kursi diseluruh provinsi dan pusat serta kontribusi di parlemen dan kementerian.Trend yang positif perolehan suara tentunya menjadi modal berharga dalam pertarungan 2014 yang diikuti oleh strategi pemenangan yang jitu dan efektif. Untuk itu pemilu 2014 merupakan pijakkan masa depan partai berikutnya.
Kedua, 15 tahun terakhir pembangunan Indonesia dinilai oleh banyak pihak belum memenuhi keinginan rakyat terutama dari aspek pengentasan kemiskinan, distribusi pendapatan, perluasan tenaga kerja, peningkatan infrastruktur dan kemandirian dari berbagai aspek serta penegakkan hukum. Melihat realita ini seluruh peserta pemilu menjual agenda perubahan dan penguatan kepemimpinan menjadi jargon kampanye.Sehingga semua partai ingin menunjukkan kepada rakyat , bahwa partainya siap untuk membuat perubahan dan Indonesia lebih bagus dari sebelumnya.
Ketiga, Indonesia tidak hanya dipandang sebagai luas wilayah dan jumlah penduduk serta potensi SDA yang sangat melimpah, tapi dipandang juga sebagai pasar masa depan bagi seluruh dunia terutama ASIA. EROPA dan AS sepanjang sejarah. Masing masing negara memperkuat basis ekonomi dan pengaruhnya terhadap Indonesia dalam upaya memperoleh keuntungan politik dan ekonomi. Tidak sedikit kelompok pengusaha/aktivis ekonomi ikut serta dalam mendanai sekaligus sebagai tim sukses non teknis dalam pemilu kali ini. Mengingat tahun 2015 merupakan fase masif persaingan pasar global, tentu seluruh pihak yang terkait dengan aspek ekonomi harus melihat dan melakukan terobosan terobasan melalui mekanisme politik.
Tiga hal inilah yang membuat pemilu 2014 kali ini semakin ketat persaingannya. Sehingga seluruh partai menempatkan seluruh sumberdaya dan kekuatan strateginya untuk mencapai perolehan suara yang rasional dan tinggi dalam upaya eksisitensi partai dan kontribusinya untuk Indonesia ke depan.
Pontensi Pemenang dan Perolehan Suara Partai
Hasil survey yang dilakukan oleh Rakyat Research and Consulting (RRC) menunjukan PKS masuk 3 besar Pemilu 2014 dengan perolehan 13,2% suara. Hasil ini sesuai dengan target nasional Partai Dakwah tersebut, yaitu masuk 3 besar pemilu nasional. Survey yang dilakukan dalam kurun waktu 10-15 Maret 2013 terhadap 1400 reponden di 33 Provinsi.
Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling, dengan metode wawancara tatap muka disertai Focus Group Discusion. Survei dilakukan dengan margin of erro 2,7%.
Hasil survei ini disampaikan oleh Hasan Sukoco, Direktur RRC pada Seminar Rakyat Menggugat pada Rabu (20/3).
Survei ini juga menunjukan partai baru Nasdem lolos ke senayan dengan suara 3,5 %, di atas Partai Hanura yang hanya memperoleh 3,1%, Sementara Partai pemenang pemilu 2009 melorot ke posisi 4 dengan perolehan suara 11%. Berikut ini adalah hasil lengkap survei yang dilakukan lembaga Research and Consulting.
Partai Golkar [18%], PDIP [ 14,8%], PKS [13,2%], PD [11%] Gerindra [5%], PAN [5%], PPP [4,2%], Nasdem [3,5%] dan Hanura [3,1].
Sumber Radar Bogor (Jurnalbogor/research-consulting/rrc)
Partai Penyeimbang dan Magnit Koalisi
Jika, perolehan suara dan surveil ini konsisten hingga 9 April 2014, maka ada bebrapa prediksi dan intepretasi terhadap perolehan suara tersebut.
Pertama, Golkar suskes dan kembali memetik keuntungan politik selama 15 tahun tiarap tidak kuat dan memegang kendali pemerintahan serta legislatif. Kembalinya Golkar sebagai pemenang pemilu dengan perolehan kurang lebih 18 % tidak berarti Golkar melenggang dan mulus menjadi RI 1 karena perolehan tersebut tidak cukup aman dan relevan untuk mencalonkan diri tunggal.Gokar harus bekerja keras dan berhitung serta cermat melakukan koalisi untuk memenuhi suara 30% lebih dan itu bisa hanya dilakukan dengan partai lain kecuali PDIP, Gerindra, Hanura, Demokrat dan Nasdem.
Mengapa Golkar tidak akan menjadikan partai tersebut sebagai mitra untuk Pilpres, karena ke 5 partai tersebut sudah memiliki kandidat presiden masing masing yang kuat terutama PDIP dan Demokrat jika perolehan suara konsisten. Gerindra dengan perolehan 5%, PAN 5%, PPP 4,2%, Nasdem 3,5% dan Hanura 3,1% menajdi partai yang terkubur mimpi mereka untuk menjadi capres karena perolehan suara yang tidak realistis.
Jika Gerindra, PAN, PPP, Nasdem dan Hanura koalisis untuk mengusung capres, maka suara mereka juga tidak cukup untuk memenuhi minimal 30%, satu satu cara adalah memikat PKS dan PD untuk berkolaisi. Namun, jalan ini tidak mudah untuk dilakukan, karena masing masing partai memiliki calon preseiden, sehingga yang layak dan memiliki bergaining posisi yang kuat adalah PKS dan PD dengan perolehan suara masing masing 13,2% dan 11%. PKS dan PD memiliki posisi tawar kuat baik sebagai capres dan cawapres dengan kerelaan partai lainya.
Jika PKS dan PD berkoalisi dengan Gerindra, PAN, PPP, Nasdem dan Hanura maka pesaing berikutnya adalah Partai Golkar dan PDIP. Namun Golkar dan PDIPjuga tidak memungkin melaju sendiri sebagai capres karena perolehan suara yang tidak cukup.
Jika Partai Golkar berkoalisi dengan PKS, maka 31% sudah sangat meenuhi untuk melaju mengusung capres dengan komposisi Golkar capresdan PKS cawapres.
Jika PDIP berkoalisis dengan PKS hanya mempeloreh suara 27,2, sehingga hanya membutuhkan suara kekuarangannya, hal itu bisa didapat melalui perolehan suara Gerindra, PPP, Nasdem, PAN dan Hanura. Namun, koalisi inisangat sulit terbangun, karena adanya perbedaan aspek idologis antara PKS dan PDIP.
Jika melihat, persfektif perolehan suara tersebut, Golkar, PDIP dan PKS menjadi partai yang sangat seksi sekaligus magnit bagi partai partai lain, terutama PKS. Dengan modal perolehan suara 13,2 % tidak hanya kuat dari aspek bergaining dengan partai lain untuk berkoalisi, namun menjadikan PKS sebagai partai yang akan diperhitungkan oleh partai manapun termasuk Golkar dan PDIP.PKS bisa menentukan koalisisnya dengan partai manapun sessuai dengan historis koalisi partainya selama 15 tahun sebelumnya. Tentu PKS memiliki pilihan yang realistis.
Potensi besar pilihan PKS dalam koalisi akan mengarah kepada Golkar, Hanura, dan Nasdem serta potensi dukungan dari partai partai lain. Mengapa mengarah pada 3 partai tersebut?karena PKS sudah memiliki hubungan historis koalisi kecuali Nasdem yang dipandang sebagai partai baru dan memiliki potensi kecil konflik dalm koalisi. Hanura dipandang dari asoek posisitif Wiranto, yang pada Pilpres 2009 juga menjadi pilihan PKS dan Haritanu yang memiliki komunikasi baik saat Pilgub Jabar.
PDIP dan PD sepertinya tidak menjadi pilihan PKS karena memiliki masa lalu yang kurang bagus.PDIP menjadi catatan kurang bagus bagi PKS karena menempatkan pasangan Jokowi dengan Ahok (aspek idiologis), dan PD yang telah memplintir PKS dalam rumah koalisi. Jika suara demokrat bertahan berdasarkan hasil survei, maka PD akan sangat kehilangan wibawanya sebagai MANTAN PEMENANG PEMILU 2 PERIODE. Dalam situasi seperti ini PD mendapatkan hukuman politik dan sejarah yang sangat menyakitkan karena prilaku politiknya yang dinilai kurang elegan dan kooperatif dengan partai lain terutama PKS.
Dalam perpekstif ini PKS menjadi cagak dan penentu koalisi 2014 untuk capres bagi partai partai lain sekaigus menjadi partai penyeimbang koalisi dengan menempatkan Golkar sebagai pilihan realistis koalisi dengan dukungan Hanura dan Nasdem.
Pertarungan Sengit Pemilu 2014
Pemilu 2014 dinilai oleh banyak pihak sebagai pertarungan sengit dan dinamis dibandingkan pemilu sebelumnya. Ada 3 alasan mengapa pemilu kali ini menyedot perhatian banyak pihak termasuk luar negeri yaitu sebanyak 34 negara siap untuk memantau dan menyukseskan pemilu?
Pertama, fase demokrasi telah dilalui kurang lebih 15 tahun dan semua partai telah terlibat penuh dalam proses politik dan demokrasi bersama kekuatan idiologi, platform dan programpartainya baik melalui lembaga legislatif, eksekutif dan program program sosial lainya selalam kurun waktu itu. Dalam fase ini seluruh partai teruji dalam menempuh persaingan sengit hingga berakhir pada titik pemilu 2014. Tentu, masing masing partai memiliki angka prestasi yang bervariasi baik dari sisi pengkaderan, soliditas, program dimasyakakat, perolehan kursi diseluruh provinsi dan pusat serta kontribusi di parlemen dan kementerian.Trend yang positif perolehan suara tentunya menjadi modal berharga dalam pertarungan 2014 yang diikuti oleh strategi pemenangan yang jitu dan efektif. Untuk itu pemilu 2014 merupakan pijakkan masa depan partai berikutnya.
Kedua, 15 tahun terakhir pembangunan Indonesia dinilai oleh banyak pihak belum memenuhi keinginan rakyat terutama dari aspek pengentasan kemiskinan, distribusi pendapatan, perluasan tenaga kerja, peningkatan infrastruktur dan kemandirian dari berbagai aspek serta penegakkan hukum. Melihat realita ini seluruh peserta pemilu menjual agenda perubahan dan penguatan kepemimpinan menjadi jargon kampanye.Sehingga semua partai ingin menunjukkan kepada rakyat , bahwa partainya siap untuk membuat perubahan dan Indonesia lebih bagus dari sebelumnya.
Ketiga, Indonesia tidak hanya dipandang sebagai luas wilayah dan jumlah penduduk serta potensi SDA yang sangat melimpah, tapi dipandang juga sebagai pasar masa depan bagi seluruh dunia terutama ASIA. EROPA dan AS sepanjang sejarah. Masing masing negara memperkuat basis ekonomi dan pengaruhnya terhadap Indonesia dalam upaya memperoleh keuntungan politik dan ekonomi. Tidak sedikit kelompok pengusaha/aktivis ekonomi ikut serta dalam mendanai sekaligus sebagai tim sukses non teknis dalam pemilu kali ini. Mengingat tahun 2015 merupakan fase masif persaingan pasar global, tentu seluruh pihak yang terkait dengan aspek ekonomi harus melihat dan melakukan terobosan terobasan melalui mekanisme politik.
Tiga hal inilah yang membuat pemilu 2014 kali ini semakin ketat persaingannya. Sehingga seluruh partai menempatkan seluruh sumberdaya dan kekuatan strateginya untuk mencapai perolehan suara yang rasional dan tinggi dalam upaya eksisitensi partai dan kontribusinya untuk Indonesia ke depan.
Pontensi Pemenang dan Perolehan Suara Partai
Hasil survey yang dilakukan oleh Rakyat Research and Consulting (RRC) menunjukan PKS masuk 3 besar Pemilu 2014 dengan perolehan 13,2% suara. Hasil ini sesuai dengan target nasional Partai Dakwah tersebut, yaitu masuk 3 besar pemilu nasional. Survey yang dilakukan dalam kurun waktu 10-15 Maret 2013 terhadap 1400 reponden di 33 Provinsi.
Survei dilakukan dengan metode multistage random sampling, dengan metode wawancara tatap muka disertai Focus Group Discusion. Survei dilakukan dengan margin of erro 2,7%.
Hasil survei ini disampaikan oleh Hasan Sukoco, Direktur RRC pada Seminar Rakyat Menggugat pada Rabu (20/3).
Survei ini juga menunjukan partai baru Nasdem lolos ke senayan dengan suara 3,5 %, di atas Partai Hanura yang hanya memperoleh 3,1%, Sementara Partai pemenang pemilu 2009 melorot ke posisi 4 dengan perolehan suara 11%. Berikut ini adalah hasil lengkap survei yang dilakukan lembaga Research and Consulting.
Partai Golkar [18%], PDIP [ 14,8%], PKS [13,2%], PD [11%] Gerindra [5%], PAN [5%], PPP [4,2%], Nasdem [3,5%] dan Hanura [3,1].
Sumber Radar Bogor (Jurnalbogor/research-consulting/rrc)
Partai Penyeimbang dan Magnit Koalisi
Jika, perolehan suara dan surveil ini konsisten hingga 9 April 2014, maka ada bebrapa prediksi dan intepretasi terhadap perolehan suara tersebut.
Pertama, Golkar suskes dan kembali memetik keuntungan politik selama 15 tahun tiarap tidak kuat dan memegang kendali pemerintahan serta legislatif. Kembalinya Golkar sebagai pemenang pemilu dengan perolehan kurang lebih 18 % tidak berarti Golkar melenggang dan mulus menjadi RI 1 karena perolehan tersebut tidak cukup aman dan relevan untuk mencalonkan diri tunggal.Gokar harus bekerja keras dan berhitung serta cermat melakukan koalisi untuk memenuhi suara 30% lebih dan itu bisa hanya dilakukan dengan partai lain kecuali PDIP, Gerindra, Hanura, Demokrat dan Nasdem.
Mengapa Golkar tidak akan menjadikan partai tersebut sebagai mitra untuk Pilpres, karena ke 5 partai tersebut sudah memiliki kandidat presiden masing masing yang kuat terutama PDIP dan Demokrat jika perolehan suara konsisten. Gerindra dengan perolehan 5%, PAN 5%, PPP 4,2%, Nasdem 3,5% dan Hanura 3,1% menajdi partai yang terkubur mimpi mereka untuk menjadi capres karena perolehan suara yang tidak realistis.
Jika Gerindra, PAN, PPP, Nasdem dan Hanura koalisis untuk mengusung capres, maka suara mereka juga tidak cukup untuk memenuhi minimal 30%, satu satu cara adalah memikat PKS dan PD untuk berkolaisi. Namun, jalan ini tidak mudah untuk dilakukan, karena masing masing partai memiliki calon preseiden, sehingga yang layak dan memiliki bergaining posisi yang kuat adalah PKS dan PD dengan perolehan suara masing masing 13,2% dan 11%. PKS dan PD memiliki posisi tawar kuat baik sebagai capres dan cawapres dengan kerelaan partai lainya.
Jika PKS dan PD berkoalisi dengan Gerindra, PAN, PPP, Nasdem dan Hanura maka pesaing berikutnya adalah Partai Golkar dan PDIP. Namun Golkar dan PDIPjuga tidak memungkin melaju sendiri sebagai capres karena perolehan suara yang tidak cukup.
Jika Partai Golkar berkoalisi dengan PKS, maka 31% sudah sangat meenuhi untuk melaju mengusung capres dengan komposisi Golkar capresdan PKS cawapres.
Jika PDIP berkoalisis dengan PKS hanya mempeloreh suara 27,2, sehingga hanya membutuhkan suara kekuarangannya, hal itu bisa didapat melalui perolehan suara Gerindra, PPP, Nasdem, PAN dan Hanura. Namun, koalisi inisangat sulit terbangun, karena adanya perbedaan aspek idologis antara PKS dan PDIP.
Jika melihat, persfektif perolehan suara tersebut, Golkar, PDIP dan PKS menjadi partai yang sangat seksi sekaligus magnit bagi partai partai lain, terutama PKS. Dengan modal perolehan suara 13,2 % tidak hanya kuat dari aspek bergaining dengan partai lain untuk berkoalisi, namun menjadikan PKS sebagai partai yang akan diperhitungkan oleh partai manapun termasuk Golkar dan PDIP.PKS bisa menentukan koalisisnya dengan partai manapun sessuai dengan historis koalisi partainya selama 15 tahun sebelumnya. Tentu PKS memiliki pilihan yang realistis.
Potensi besar pilihan PKS dalam koalisi akan mengarah kepada Golkar, Hanura, dan Nasdem serta potensi dukungan dari partai partai lain. Mengapa mengarah pada 3 partai tersebut?karena PKS sudah memiliki hubungan historis koalisi kecuali Nasdem yang dipandang sebagai partai baru dan memiliki potensi kecil konflik dalm koalisi. Hanura dipandang dari asoek posisitif Wiranto, yang pada Pilpres 2009 juga menjadi pilihan PKS dan Haritanu yang memiliki komunikasi baik saat Pilgub Jabar.
PDIP dan PD sepertinya tidak menjadi pilihan PKS karena memiliki masa lalu yang kurang bagus.PDIP menjadi catatan kurang bagus bagi PKS karena menempatkan pasangan Jokowi dengan Ahok (aspek idiologis), dan PD yang telah memplintir PKS dalam rumah koalisi. Jika suara demokrat bertahan berdasarkan hasil survei, maka PD akan sangat kehilangan wibawanya sebagai MANTAN PEMENANG PEMILU 2 PERIODE. Dalam situasi seperti ini PD mendapatkan hukuman politik dan sejarah yang sangat menyakitkan karena prilaku politiknya yang dinilai kurang elegan dan kooperatif dengan partai lain terutama PKS.
Dalam perpekstif ini PKS menjadi cagak dan penentu koalisi 2014 untuk capres bagi partai partai lain sekaigus menjadi partai penyeimbang koalisi dengan menempatkan Golkar sebagai pilihan realistis koalisi dengan dukungan Hanura dan Nasdem.
Labels:
Opini
Habib Rizieq Dukung Aher Jadi Capres
Ketua Front Pembela Islam (FPI) Habieb Rizieq menilai calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi), terlalu populer. Dia perlu lawan tanding yang sepadan.
"Jokowi terlalu populer, sehingga harus punya lawan tanding yang sebanding dari partai Islam," kata Rizieq seperti yang dilansir INILAHCOM, Rabu (2/4/2014).
Rizieq mengatakan, posisi partai Islam penting untuk diangkat. Dia melihat, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, yang akrab disapa Aher, adalah lawan tanding terbaik Jokowi. Aher juga berasal dari partai berbasis Islam yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
"Aher termasuk kader terbaik partai Islam dan bisa diterima oleh semua kelompok Islam," ujar Rizieq.
Dia juga tidak meragukan kepemimpinan Aher. Apalagi, sebagai Gubernur Jawa Barat, sekarang adalah periode keduanya.
"Aher punya pengalaman dua kali kompetisi di Pilgub Jawa Barat dan menang," katanya.
Memenangkan Pilgub Jawa Barat bukan perkara mudah. Apalagi, Rizieq menambahkan, jumlah penduduk Jawa Barat sangat besar. Sehingga suara itu sangat signifikan kalau diambil untuk maju di Pilpres 2014.
"Aher saat Pilgub Jawa Barat mengantongi 10 juta suara pendukung di Jawa Barat sehingga bisa jadi modal pilpres," katanya.
Rizieq juga menilai, Aher sudah mendapat lebih dari 100 penghargaan internasional. Penghargaan itu atas kinerja.
"Selama ini Aher bersih, tegas, peduli, merakyat, serta juga jago blusukan." (inilah)
Labels:
Berita
Jokowi dan Sikapnya Terhadap Amerika
SEBAGAI partai bermoto peduli wong cilik, PDIP mengaku sebagai partai nasionalis. Namun dalam kebijakannya, Megawati tunduk pada asing dan banyak menjual aset negara. Saya ingin tanyakan bagaimana dengan Jokowi? Apakah dia juga tunduk kepada asing, khususnya Amerika? Umat Islam belum membaca ini dan masih silau dengan gaya “blusukan” Jokowi.
Dwi Mashudi
Dalam upaya menolak perluasan Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS), perwakilan ormas Islam datang ke Balai Kota untuk menyuarakan aspirasinya kepada Jokowi. Alasan ormas Islam menolak karena melihat rekam jejak Amerika dalam menzhalimi umat Islam dan berbagai kegiataannya yang merugikan Indonesia.
Sungguh tidak masuk akal sebuah kedutaan besar akan berdiri hingga 10 lantai dengan nilai pembangunan mencapai 450 juta dollar AS atau sekitar Rp 4,2 triliun. Gedung baru itu akan digunakan sebagai ruang kerja seluas 36 ribu meter persegi. Dengan luas tersebut, maka Kedubes AS di Indonesia akan menjadi terbesar ketiga setelah Irak dan Pakistan.
Anehnya, kompleks kedubes AS yang terletak di Baghdad, Irak sangat tertutup. Di bagian luar, tentara AS menjaganya dengan sangat ketat. Tak ada satu pun pihak di luar Amerika yang tahu apa kegiatan di dalam kompleks ini.
Sedang di Pakistan, AS membangun kantor kedubes kedua terbesar di dunia. Luasnya mencapai 7,2 hektar. Asia Times menyebut kantor kedubes ini layaknya sebuah pangkalan militer. Di dalamnya, selain terdapat staf biasa, ada juga 350 marinir AS yang didaftarkan sebagai staf tambahan.
Maka dalam kasus Indonesia, Ormas Islam mensinyalir proyek perluasan kedubes AS yang melibatkan lebih dari 5.000 pekerja ini adalah bagian dari mata-mata asing untuk menguasai Indonesia.
Sejujurnya upaya umat Islam meminta agar Jokowi menolak perluasan Kedubes AS –yang tak jauh dari balaikota- adalah demi kepentingan bangsa itu sendiri. Penjajahan yang Amerika lakukan terhadap sumber daya alam di Indonesia haruslah dihentikan.
Dalam kasus Freeport, misalnya, selama ini Indonesia mendapat bagian yang sangat kecil dibandingkan dengan yang diperoleh Freeport. Tercatat, dari tahun 2005 – September 2010, total penjualan PT Freeport Indonesia sebesar US$ 28.816 juta atau Rp 259,34 triliun; laba kotornya US$ 16.607 juta atau Rp 150,033 triliun. Bandingkan dengan royalti yang dibayarkan kepada Indonesia hanya sebesar US$ 732 juta atau Rp 6,588 triliun.
Kondisi semakin merugikan Indonesia karena selama dua tahun Freeport ternyata tidak melakukan setoran kepada Indonesia. Wakil Menteri BUMN, Muhammad Yasin menyebut, seharusnya Freeport memberikan deviden sebesar Rp 1,5 triliun setiap tahun. Namun, sudah dua tahun terakhir perusahaan tambang emas terbesar di dunia ini berhenti memberikan deviden. “Rata-rata Rp 1,5 Triliun. Tapi Dua tahun lalu sudah berhenti,” kata dia.
Dalam sejarah, Amerika tidak pernah melepaskan aktivitas diplomatiknya tanpa dibarengi dengan kegiatan intelijen dan militer. Berkaca pada kasus The US Naval Medical Research Unit (Namru). Amerika telah leluasa bahkan tanpa control yang ketat dari pemerintah Indonesia dalam melakukan kegiatan–kegiatan yang berkedok penelitian.
Banyak yang menduga bahwa perluasan kedubes ini memungkinkan Amerika nantinya akan memindahkan unit–unit intelijen dan militernya ke dalam kedubes. Apalagi sebuah kedubes adalah tempat di mana sebuah Negara memiliki kedaulatannya sendiri dan pemerintah Indonesia tidak akan bisa menegakkan hukumnya di tempat tersebut.
Respon Jokowi
Hampir 90 menit ormas Islam menunggu, akhirnya Jokowi mendatangi perwakilan Ormas Islam. Saat itulah, Ormas Islam akhirnya serempak menyampaikan uneg-unegnya. Dimilai dari Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia Rokhmat S Labib yang mengingatkan akan terus mengalirnya dosa orang yang turut membantu membangun gedung yang digunakan untuk markas intelijen negara penjajah Amerika itu. “Kalau Pak Jokowi bangun masjid itu kan amal jariah, kalau membangun kedubes AS amal salah yang dosanya terus mengalir,” Rokhmat mengingatkan.
Suasana pun jadi riuh rendah, Jokowi tersenyum lalu lempar bola: “Bukan saya, Pak Putu…!”. Putu Indiana adalah Kepala Dinas Pengawasan dan Penertiban Bangunan (P2B) DKI Jakarta
Namun Putu pun mengingatkan bahwa dirinya hanyalah pelaksana teknis, kebijakan akhirnya ada di Jokowi. Maka Rokhmat pun meminta ketegasan Jokowi untuk menolak memberikan IMB. “Saya ingin menerima jaminan bahwa Pak Jokowi menolak!” tegasnya.
Jokowi hanya senyum-senyum saja. Pimpinan Ma’had Daarul Muwahhid KH Shoffar Mawardi, dengan mimik wajah yang sangat serius berkata: “Kami datang kemari untuk menyampaikan hal-hal yang tidak dipikirkan pemerintah, padahal ini menyangkut masalah dunia akhirat Pak Jokowi dan bangsa.”
Seakan mencoba menerka bahwa Jokowi tidak mau dengan tegas menolak lantaran kuatir ditekan pihak Amerika, Jubir HTI Ismail Yusanto berkomentar: “Kalau Pak Jokowi mendapat tekanan-tekanan, serahkan kepada kita, biar kita bantu dari belakang.”
Jokowi tetap mesem-mesem, tidak mau menyatakan penolakannya untuk menerbitkan IMB Kedubes AS. Abu Bilal utusan dari Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) lalu angkat bicara karena khawatir azab Allah akan semakin besar bila kedubes Amerika diperbesar.
“Pak Jokowi harus bersyukur dan berterima kasih, karena inilah kerja nyata kami untuk membangun Jakarta, membangun bangsa ini, untuk menghindari azab yang lebih besar dari Allah SWT.”
Saya yang saat itu hadir melihat benar bagaimana ormas Islam sudah berusaha meyakinkan Jokowi dengan berbagai cara. Sampai-sampai perwakilan ormas bertanya apa sebenarnya pandangan hati kecil Jokowi. Minimal jika Jokowi menolak, umat bisa lega. Karena Gubernur merestui perjuangan mereka. Namun hingga akhir pertemuan, Jokowi tetap bungkam.
Pertemuan ini menjadi pelajaran penting bagi umat Islam dalam melihat bagaimana sikap Jokowi terhadap Amerika dan siapakah Jokowi sesungguhnya.
Klaim-klain nasionalisme yang selama ini disuarakan PDIP dan Jokowi tampaknya sirna. Negara yang selama ini telah mengeruk sumber daya alam bangsa dan membuat rakyat miskin bisa bebas melakukan kegiatan yang merugikan negara.
Dan kini, perluasan kedubes AS terus berjalan. Tahun 2017 dikabarkan proyek perluasan ini akan rampung. Dan bukan tidak mungkin jalan Amerika semakin mulus, mengingat Jokowi digadang-gadang menjadi Presiden RI. Wallahua’lam [islampos]
Labels:
Opini
Subscribe to:
Posts (Atom)














