Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts
Showing posts with label Kisah Nyata. Show all posts
Monday, 21 April 2014
Dr. Sayyid Ismail, Sang Dosen Hafidz Quran ini Syahid
Beliau adalah seorang Dosen di Fakultas Tarbiyah Universitas Al-Azhar, berasal dari Ar-Roml, Alexandria. Almarhum syahid pada peristiwa pembantaian Monumen Anwar Sadat. Beliau merupakan seorang Hafizh Qur’an dan turut serta dalam aksi revolusi 25 Januari.
Seorang kawan karibnya Ahmad el-Attar bercerita tentangnya:
“Demi Allah dia telah datang padaku dalam mimpi kurang lebih 9 hari sebelum peristiwa syahidnya , dan dia berkata kepadaku :” Sungguh.. , mati syahid Insya Allah!”, dan ia benar-benar mendapatkannya, ia sudah jujur dan membenarkan Allah (shiddik) maka Allah memberikan karunia padanya.”
Salah seorang kawannya yang lain berujar:
“Sungguh aku tidak mengenalnya melainkan ia gemar mengkhatamkan al-qur’an, mengajarkan alqur’an. Aku sering melihat dia suka tersenyum, dan tidaklah ia gemar menasehati kecuali karena Allah, aku bersaksi dihadapan Allah bahwa dia turut juga dalam membantu revolusi Libiya, berjuang di Gazza, namun belum berkesempatan ke Syria dg niat mencari kemulyaan syahid, namun ia diberikan Allah di sini di negeri Mesir. Ya Allah terimalah amalan syahidnya!”
“Di dalam kamar jenazah Zenhoum kami memandikan saudara kami as-syahid Muhammad Sayid Ahmad??, Imam Masjid al-Firdaus Alexandria, yang telah wafat disebabkan 4 peluru yang disarangkan oleh para pengkhianat dari preman bayaran Polisi, didepan monumen Anwar Sadat.Dan aku bersumpah atas nama Allah, ketika saya memandikan jenazahnya seakan ia masih hidup, dan darah segarnya masih mengalir dari jasadnya, dan baunya harum sekali, sungguh selamat atas dirinya atas kesyahidan ini.” [syuhadar4biah.com]
Labels:
Kisah Nyata
Tuesday, 15 April 2014
Inilah Mimik Wajah Marah Raja Saudi Dihadapan Menlu Amerika
Ketika Raja Faisal memutus pasokan minyak hingga negara-negara Barat mengalami krisis minyak pada Oktober 1973, ia melontarkan kalimat yang terkenal dan mengguncang dunia: “Kami dan leluhur kami telah mampu bertahan hidup hanya mengandalkan kurma dan susu, dan kami akan kembali dengan cara itu lagi untuk bertahan hidup (tanpa bantuan barang-barang dari Barat).”
Henry Kissinger, Menteri Luar Negeri AS, langsung mengunjungi Raja Faisal dan mencoba membujuknya untuk menarik keputusannya itu.
Akan tetapi Raja Faisal hanya berkata dengan wajah penuh kebencian, “Hancurlah ISRAEL!”
Henry Kissinger mencoba melontarkan sebuah lelucon untuk menghibur sang Raja: “Pesawa saya kehabisan minyak, berkenankah yang mulia memerintahkan orang agar mengisinya dengan minyak kembali? Dan kami siap membayarnya dengan kurs internasional.”
Namun Sang Raja tak tertawa sedikitpun. Ia memandang Kissinger sambil berkata: “Dan aku hanyalah seorang lelaki tua yang menginginkan untuk dapat shalat dua rakaat di Masjid Al Aqsa sebelum aku mati; maka maukah engkau (Amerika) mengabulkan permintaanku ini?”
Foto di atas tampak fasih menggambarkan sikap Raja Faisal yang tak menyukai Kissinger dan Kissinger yang berusaha menarik hati Sang Raja. [knrp/im]
Labels:
Kisah Nyata,
Sejarah
Monday, 14 April 2014
“Siapa Pasukan Berbaju Putih yang Kebal Tembak Itu?”
AYATURRAHMAN Fi Jihadi Suriah, menjadi kisah yang berkali-kali diceritakan para ulama Suriah kepada Tim Jurnalis Bersatu (JITU) di tengah-tengah Muktamar Ulama Suriah yang digelar di Turki (11-12/4/2014).
Kisah pertama diceritakan pejuang asal Idlib, berhama Hasan. Dia datang ke Muktamar untuk menemani ayahnya, seorang ulama .
Hasan bercerita suatu kali pesawat tentara Suriah mengaung-ngaung di udara untuk menyasar desa-desa kaum muslimin. Warga dan pejuang yang tidak memiliki persenjataan canggih hanya bisa bertawakal kepada Allah. Mereka berdoa agar bom-bom tersebut tidak melukai mereka.
Akhirnya mereka sepakat untuk bertakbir sekencang-kencangnya saat bom-bom itu dimuntahkan dari udara. Dan ketika bom tersebut jatuh ke tanah, ternyata bom itu urung meledak.
Begitu pula saat bom kedua dilancarkan. Muntahan material dari langit itu menerjang bak bola api yang siap meluluh lantahkan desa.Warga dan pejuang kembali bermunajat kepada Allah seraya bertakbir sekeras-kerasnya. Luar biasa, lagi-lagi bom itu kembali gagal meledak.
Menariknya, hal ini terus berlangsung hingga berkali-kali. Hingga saat bom terakhir ditembakkan, tiba-tiba saja bom itu bisa meledak. “Saat itu para warga dan pejuang tidak bertakbir,” kata Hasan.
Cerita lainnya lahir dari penjelasan Anggota Ikatan Ulama Homs, Syekh Anas Ahmad Suwaid.
Di awal revolusi, beliau dan pejuang pernah bertakbir secara serentak di kota Homs untuk melawan kekuatan rezim. Tiba-tiba saja takbir mereka disambut dengan petir-petir yang menyambar mengarah ke tentara-tentara rezim.
“Banyak sekali telpon yang masuk kepada kami, ‘lihatlah ke langit, lihatlah ke langit’. Subhanalloh, seakan-akan petir bertakbir bersama kita. Inilah salah satu karomah yang saya saksikan sendiri dengan kedua mata saya,” ujarnya.
Kisah lainnya, lanjut ulama muda ini, terjadi pada salah seorang mujahid. Ketika berada dalam kondisi terluka parah, sang mujahid ditahan oleh rezim. Dalam tahanan itu, dia harus menghadapi interogasi dengan sejumlah pertanyaan.
Salah satu pertanyaan dari pihak rezim adalah keheranan mereka terkait sejumlah pasukan berwarna putih yang tak mampu dilumpuhkan tentara Bashar. “Siapakah mereka? Ketika kami tembak, mereka tidak merasakan apa-apa!” tanya tentara rezim.
Sang mujahid lalu menjawab, “Demi Alloh, tidak ada seorang pun dari kami yang memakai baju putih.”
Syekh Anas tersenyum lalu berkata kepada tim JITU, ”Mereka adalah para malaikat. Seperti apa yang difirmankan oleh Alloh ta’ala dalam surat Al Anfal ayat 12,” pungkasnya. [JITU/islampos]
Labels:
Kisah Nyata,
Suriah Terkini
Friday, 28 March 2014
Wah...Ternyata Caleg PKS Ada yang Muallaf Lho!
Jum’at sore dan hujan cukup deras, saat itu saya sedang melintas di jalan raya Jati Makmur. Karena hujan makin deras, saya memutuskan untuk mampir ke tukang kue yang ada di pinggir jalan.
“Bang kuenya tiga ya” pinta saya pada tukang kue.
“Oh iya pak. Tiga ya. Kagak empat sekalian pak?," Ujar si abang.
“Enakan tiga Pak. Lah PKS kita, nomer tiga.. Hehe..,” tutur saya berharap balasan canda.
Sambil menyiapkan kue, Si bapak bertanya tentang PKS.
“Besok kampanye PKS di Bekasi ya pak ?”
Lalu saya menjawab, “Iya pak besok di Bekasi.”
“Dimana acaranya pak ?” Tanyanya.
‘Di GOR Bekasi Pak, itu GOR yang udah direnovasi Aher, gubernur Jawa Barat," jawab saya.
“Oh gitu ya Pak. Wah kemarin juga ramai di gelora Bung Karno sampai ratusan ribu lebih,” ujar beliau.
“Kok bapak tahu. Bapak ikut kampanye toh ?”
“Nggak pak. Saya lihat sedikit di TV. PKS hebat ya, ada calegnya yang muallaf ! Itu yang namanya Sony Christian.”
“Oh iya betul Pak, beliau memang muallaf. Udah lama jadi kader PKS. Sekarang dia dapat amanah jadi caleg untuk DPRD Kota Bekasi.”
Hujan belum juga reda. Obrolan pun berlanjut membicarakan berbagai hal tentang PKS.
Alhamdulillah, ditengah-tengah gempuran berbagai isue dari berbagai penjuru. Ternyata masih banyak masyarakat yang terbuka hatinya.[Syamsudin/pks-pondokgede.org]
Labels:
Kisah Nyata,
PKS
Ketika Polisi Menggeruduk Layanan Kesehatan PKS
Sehari setelah apel siaga PKS di lapangan FPOK Sampangan, DPC PKS Gajahmungkur mengadakan acara kampanye tertutup di kelurahan Karangrejo. Adapun bentuk pelayanannya berupa pasar murah dan layanan kesehatan murah. Sebelum acara dimulai, mereka mempersiapkan terlebih dahulu berbagai macam perlengkapan dan menyiapkan tempat layanan. Salah satu relawan PKS yang ikut mempersiapkan tempat itu sebut saja namanya Rina (bukan nama sebenarnya). Rina rutin mempersiapkan dan membantu posko layanan kesehatan PKS dalam setiap pekannya. Namun, ditengah kesibukan tersebut tiba – tiba saja seorang Polisi datang menuju tempat layanan itu.
“Apa benar ini acaranya PKS, mbak?”
“Iya Pak? Pripun?”
“Nggak…, saya hanya bertugas saja kok, mbak. Mengawasi saja. Kok masih sepi?”
“Inggih, Pak masih sepi. Soalnya baru saja dibuka”
“Ooo… begitu, acaranya apa saja, Mbak?”
“Kita menjual sembako murah dan pelayanan kesehatan murah, Pak. Emm…, Bapak mau cek kesehatan, Pak? Kami melayani cek gula darah dan asam urat lho, Pak…”
“Baiklah, mbak. Saya cek kesehatan sekarang”.
“Oh, baik, Pak..”
Beberapa saat kemudian polisi itu pun diperiksa kesehatannya oleh dokter PKS. Setelah itu percakapan diantara mereka mulai mencair.
“Wah, saya nggak nyangka lho mbak kalau ternyata orang PKS itu jumlahnya banyak.”
“Iya, Pak. Terus memangnya kenapa, Pak?”
“Kampanye kemarin bikin jalanan jadi macet, panjang banget.” Ternyata Polisi tersebut ikut berjaga saat kampanye di Lapangan FPOK kemarin.
“Hehe… mungkin jalan disitu sempit, Pak. Sehingga tumpukan kendaraan menyebabkan macet.”
“Nggak, mbak… kemarin yang ada di lapangan juga kelihatan banyak banget. Padahal Lapangan FPOK itu kan luas.””
Setelah pemeriksaan selesai, Polisi itu pun mohon pamit untuk meninggalkan tempat acara.
Tidak pernah ada yang menyangka jika kampanye kemarin didatangi banyak massa. Apalagi PKS sebelum-sebelumnya digempur dengan berbagai macam isu miring yang cenderung meyudutkan Partai Dakwah itu. Bahkan banyak pengamat memprediksi PKS tidak akan lolos electoral threshold.
Acara pasar murah pun berjalan sebagaimana mestinya. Satu persatu para pengunjung pasar murah berdatangan untuk membeli kebutuhan pokok rumah tangganya. Namun, tiba – tiba saja suasana berubah sedikit agak tegang. Bagaimana tidak? Segerombolan Polisi datang ke tempat layanan tersebut. Bahkan, panitia pun mulai merasa was – was dengan kedatangan Polisi yang sebegitu banyaknya.
Untuk menjawab rasa penasaran, dengan memberanikan diri Rina pun menanyakan maksud kedatangan mereka ke layanan PKS itu.
“Pripun Bapak – bapak, apa yang bisa kami bantu?”
“Ini mbak…, kami mau tes kesehatan juga”
“Oalah…ternyata Bapak ingin tes kesehatan juga, tho… Tak piker ada masalah apa. Lha, bapaknya datangnya rombongan sih. Bikin warga dan masyarakat menjadi kaget.
“Iya, mbak… Maaf!” (pks jateng)
Posted by: @sahabatbaik
Labels:
Kisah Nyata,
PKS
Wednesday, 19 March 2014
Bocah Siti Aisyah, Setahun Lebih Tidur di Becak Bersama Ayahnya yang Sakit
Siti Aisyah Pulungan (8) sudah lebih dari satu tahun tidur di becak bersama ayahnya Muhammad Nawawi Pulungan (56) yang sakit parah. Jika malam tiba, keduanya meringkuk di atas becak yang diparkir di teras rumah warga. Saat hujan, suasana menjadi semakin sulit.
Aisyah kini tidak sekolah lagi. Dulu dia sempat duduk di kelas satu Sekolah Dasar (SD), namun seiring dengan kondisi ayahnya yang sulit, kesehariannya kini hanya menjaga ayahnya.
"Mulai dari bangun pagi sampai mau tidur lagi, hanya menjaga ayah,” kata Aisyah di trotoar depan Masjid Raya Al Mashun, Jalan Sisingamangaraja, Medan, Sumatera Utara (Sumut), Rabu (19/3/2014) sore.
Becak barang itu menjadi rumah bagi Aisyah dan ayahnya. Ada bantal, ember, selimut, pakaian dan kebutuhan harian lainnya. Mereka tinggal dan beraktivitas di atas becak itu. Malam hari mereka memarkirkan becaknya di depan teras rumah warga di seputar Jalan Sisingamangaraja. Jika pagi tiba, mereka pindah ke sekitar Masjid Raya. Aisyah lah yang mendayung becak itu.
Sang ayah Nawawi menderita penyakit komplikasi paru yang berimbas pada kondisi fisiknya. Kurus layu dan tidak bisa menggerakkan sebagian besar tubuh. Aisyah menjadi tumpuan. Setiap hari Aisyah yang memberi makan, minum, dan memberi obat dan mengurus kebersihan tubuh ayahnya.
Setiap hari keduanya memarkirkan becak mereka di samping Masjid Raya. Masjid bersejarah ini menjadi bagian dari penyambung hidup mereka. Saat masjid sedang tidak ramai, Aisyah masuk dan membersihkan tubuh di kamar mandi masjid itu. Usai mandi, dia kemudian membawa kain yang sudah dibasahi untuk mengelap tubuh ayahnya. Begitu cara ayahnya mandi.
Tapi jika akan ke kamar mandi masjid, Aisyah tidak akan masuk dari pintu depan. Ini masjid yang rutin dikunjungi turis dan pejabat, jika Aisyah terlihat masuk dari depan, bisa menyulitkan penjaga. Maka Aisyah masuk dengan cara melompati pagar masjid. Penjaga masjid tahu, tapi tidak memarahi.
Keberadaan Aisyah dan ayahnya tidak disukai pejabat kelurahan. Mereka sering diusir, apalagi jika pejabat akan datang mengunjungi Masjid Raya. Jika sudah begitu, maka Aisyah akan mendayung becaknya, membawa ayahnya pergi ke tempat yang aman.(detik)
Labels:
Kisah Nyata
Tuesday, 18 March 2014
Cerita Laskar Merah Putih di Kampanye PKS
by Abu Haniyya
Kisah “Penaklukan GBK” oleh massa Kampanye Partai Keadilan Sejahtera terus mengalir dari berbagai pihak yang hadir di dalamnya. Kampanye terbesar partai politik sepanjang pelaksanaan pemilu di era reformasi ini menyisakan banyak kesan. Tak terkecuali dari elemen pengamanan.
Sebuah kisah harmoni indah antar elemen anak bangsa yang cinta damai serta mendambakan keadilan dan kesejahteraan tergelar di GBK. Sebuah fragmen indah, miniatur Indonesia yang beragam berangkulan dalam kebersamaan dan persatuan. Inilah sepenggal kisah Pandu Keadilan dan Laskar Merah Putih (LMP) yang bahu membahu menjalankan tugas pengamanan kampanye dengan massa terbesar di Indonesia, pada Ahad 16 Maret 2014 lalu.
Siapa Laskar Merah Putih? Silahkan baca lebih lanjut di situs Laskar Merah Putih (http://www.laskarmerahputih.org/guest/sejarah.do).
Pandangan pertama terjadi saat kami akan menunaikan shalat subuh di Mushalla VIP GBK. Beberapa jamaah shalat subuh, usai shalat kemudian masuk ke toilet di Gedung VIP. Setelah keluar. Dari toilet...Jreng. mantap benar seragamnya. Loreng kombinasi merah putih hitam begitu memukau kami yang berpakaian kaos sederhana :)
Saya berbisik ke Waldi, seorang personel Pandu Keadilan Kota Bogor.
“Siapa itu akh? Seragamnya bagus dan pas lagi.” Saya nyengir karena naksir seragamnya yang masih ngejreng. Masih baru kayaknya. Sementara diantara kami ada yang memakai seragam Pandu Keadilan yang sudah lusuh sebagian lain kesempitan. Maklum sebagian mengalami kemajuan di area perut :D
“Itu Laskar Merah Putih, Pak.”
“Wah hebat ya, mereka nginep dari tadi malam dan juga ikut mengamankan kampanye kita,” timpal saya.
Berikutnya kembali saya terkesima. Kali ini pandangan saya tertuju pada beberapa perempuan berparas dan ber-body “emak-emak” berseragam LMP. Luar biasa, emak-emak macho, euy.
Kesan saya pada LMP hampir pupus dengan kesibukan persiapan pengamanan di lapangan GBK. Tapi dasar jodoh, kami, personel Pandu Keadilan bertemu lagi personel LMP di dalam lapangan GBK. Ternyata tugas kami sama, mengamankan “Ring Satu” lokasi kampanye yaitu gerbang masuk lapangan, areal lapangan dan panggung.
Saya sungguh tergoda untuk bisa sekedar ngobrol dengan mereka. Ini momen indah dimana Pandu Keadilan berkolaborasi dengan organisasi besar seperti LMP. Saya mendekati seorang ibu yang di seragamnya tertulis nama “Ririen”.
“Ibu, perkenalkan saya dari Kepanduan Bogor. Ibu dari LMP Jakarta?”
“Ya, saya sendiri tinggal di basis PKS di Jakarta. Makanya sering ikut kegiatan PKS.”
“Apa saja kegiatan yang diadakan bersama PKS.” Saya mulai beraksi bak wartawan :)
“Kami adakan pengajian rutin. Ada juga lomba-lomba. Kemarin saya memenangkan lomba masak lho, Mas, hihihi. Oh ya kami juga ada kegiatan penanggulangan bahaya narkoba dan penanggulangan bencana.”
Nah loh...ternyata Ibu ini kemayu. Tidak sama dengan kacamata hitam dan seragamnya yang sangar, hehe. Yang hebat, orang-orang LMP ngaji sama PKS. Cetaaarrr!
“Mas asalnya dari mana?” tanya Bu Ririen.
“Saya dari Jawa Timur Bu.” Jawab saya
“Oalaah rek, sama dong. Saya dari Surabaya.” Bu Ririen begiu cair mengobrol dengan kami didampingi seorang lelaki dan ibu-ibu yang paruh baya dengan seragam LMP juga.
“Mas minta fotonya doong. Oh tapi jangan sendirian mas, ajak yang lain.” Pinta Bu Ririen
“Masya Allah, Emak Macho ini, tahu adab islami.” Bisik saya.
Saya langsung memanggil Pak Nasri, yang saya panggil "Jenderal Menir", Ketua Bidang Kepanduan dan Olah Raga DPD PKS Kota Bogor. Saya memilih untuk jadi juru foto. Ya, maklumlah, masak wartawan ikutan narsis: )
Interaksi singkat saya dengan rekan-rekan LMP menarik perhatian personel Kepanduan dari kota lain. Mereka satu persatu ikut nimbrung dan foto bareng Bu Ririen dan personel lainnya. Cieeeh, Bu Ririen jadi selebritis nih... cieeee :)
Lupakan aksi foto-foto. Kita simak ngapain aja mereka bersama Pandu Keadilan, apa cuma mejeng dengan seragam sangar? Ya gak lah.
Saya dengan mata kepala sendiri melihat Bu Ririen dan emak-Emak dan bapak-Bapak Macho lainnya bahu membahu bersama Pandu Keadilan menjaga keamanan dan kelancaran jalannya Kampanye. Saya melihat Bu Ririen mengangkut karung berisi snack yang kemudian dibagikan ke semua tenaga pengamanan di lapangan. Sementara personel LMP lainnya membuat border dan berjaga di semua gerbang masuk lapangan GBK dan di sekeliling lapangan rumput, bergandengan tangan dengan Pandu Keadilan. Kehadiran LMP begitu signifikan mengamankan jalannya kampanye hingga kisah “Penaklukan GBK” berjalan damai, manis, indah dan mesra.Duh Mesranya Pandu Keadilan dan LMP. Jadi Ingat lagu Iwan Fals deh...
Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini, ingin ku kenang selalu
Hatiku damai, jiwaku tentran disampingmu
Hatiku damai, jiwaku tentran bersamamu
(Kemesraan Iwan Fals)
Pantas saja Ustadz Anis Matta sangat terharu dengan kontribusi Pandu Keadilan dan LMP hingga dituliskan dalam tweet-nya
@anismatta: Terima kasih kepada panitia, Kepanduan, relawan, Laskar Merah Putih.. #PKSm3nang (Ahad, 16/3/2014)
Ya Allah jadikan mereka bagian dari pendukung dakwah yang Engkau ridhoi.... Amiiin..
____
*Foto atas: paling kanan Bu Ririen, Ibu berseragam loreng berkaca mata hitam. paling kiri Pak Nasri "Jenderal Menir" berseragam PDH Pandu Keadilan
**http://www.pkspiyungan.org/2014/03/cerita-laskar-merah-putih-di-kampanye.html
Labels:
Kisah Nyata,
PKS
Monday, 17 March 2014
Kurang Bukti Apa Lagi?
(16/03/14) – Hari ini, panggilan hati tertuju pada Gelora Bung Karno. Ada apa disana? Ada kampanye terbuka dari Partai Keadilan Sejahtera. Ah ya, kenapa saya begitu tertarik ingin kesana? Karena partai ini yang membuat saya begitu tertarik dengan dunia politik.
“Jangan-jangan, Fathia kader ya?” – Bukan. Saya bukan kader, saya masih pelajar dan belum memilih. Bisa dibilang, simpatisan saja :)
“Terus, kenapa bisa jadi simpatisan PKS?” – Mending, baca terus aje ye..
Seragam hari ini, Putih. Temanya pun, “Putihkan GBK” dan saya siap dengan kaos putih, rok jeans dan jilbab putih. Dengan cuaca Jakarta yang lumayan, putih menjadi busana yang cocok dalam cuaca panas Jakarta. Dan pagi itu, saya berangkat menggunakan motor menuju tempat berkumpulnya rombongan. Hari ini, dari keluarga yang berangkat ber-3. Saya, Bunda dan Ayahanda. Jadi anak tunggal seharian dengan peristiwa yang tak akan dilupakan, seumur hidup saya.
Saya mendapat jatah di Mobil bus 11. Duduk ber-3 dengan Ayah dan Bunda. Penuh rasa dan cerita. Ada 3 mobil bus disana dan kami siap menuju GeBeKa.
Perjalanan pagi ini penuh semangat membara, hati yang tak sabaran, pikiran yang membayang dan tangan yang gatal, mulai mencari inspirasi untuk bahan tulisan. Dan dari pagi ini pun, PKS sudah memberi sebuah inspirasi besar untuk bahan tulisan.
PKS mempunyai sebuah kemasan yang berbeda. Yang membuat saya.... entahlah, selalu tertarik dengan apa yang diciptakan partai tersebut. Apa lagi soal kesolidan kader dan soal pendidikan politik untuk anak mudanya. Partai ini beda. Ya, beda.
Pemandangan Jakarta pagi itu berbeda juga, penuh bis dan putih. Dan saya pikir, PKS kali ini bukan hanya akan memutihkan GBK, tapi juga Jakarta. Selain kekaguman saya bertambah hari ini, saya juga berharap banyak pada Kader PKS yang hadir.
Ketika mereka siap memenuhi GBK dengan semangat mereka, mereka juga harus memenuhi tong sampah dengan sampah-sampah mereka, tanpa ada yang buang sampah sembarangan dan masjid, ikut penuh sepenuh GBK hari itu. Itu harapan saya.
Setelah melewati kemacetan yang lumayan, kami se-rombongan berhasil masuk dan mendapat tempat duduk. Saya siap dengan mata yang akan terus menatap, telinga yang siap mendengar dan lisan yang siap berteriak. Karna hari ini, saya ingin hasil. Bukan hanya cerita biasa-biasa saja. Tapi saya menginginkan suatu hasil dari acara ini. Dan saya, mendapatkannya.
Putihkan GBK hari ini = Militansi + Kesantunan + Kecerdasan + Seni dan Manajemen yang canggih. Menurut saya, 5 aspek tersebut sudah lebih dari cukup untuk meyakinkan masyarakat tentang betapa kuatnya partai ini dan betapa seriusnya partai ini ingin membangun Indonesia.
Militansi kadernya, kesantunan bahasa mereka, kecerdasan pemikiran mereka, seni PKS dalam menciptakan acara ini dan sistem manajemen pengaturan mereka itu benar-benar membuat saya kagum. Ya bayangkan saja, gimana nggak canggih coba? Bisa mengelola ratusan ribu massa tanpa meninggalkan sedikitpun kekacauan, keributan dan hal-hal yang tidak diinginkan lainnya.
Kurang Bukti Apa Lagi coba?
Hari ini saya merasakan tak seperti menghadiri kampanye terbuka, tetapi sedang menyaksikan PKS memberi pendidikan dan ilmu politik untuk saya dan anak-anak muda yang lain. Dan sekali lagi, saya bahagia bisa datang ke GBK hari ini.
Andai saja GBK bisa menampung seluruh rakyat Indonesia dan seluruhnya hadir. Mereka akan merasakan bagaimana bergetarnya hati saya saat Presiden Anis Matta menyampaikan suara hatinya dihiasi oleh hujan. Bagaimana pikiran saya dan hati saya terkagum-kagum atas semangat kadernya, atas prestasi anak kadernya yang “horror” , semangat saya jadi terpacu karena mereka.
Dan PKS, hari ini meyakinkan saya, bahwa saya tidak akan pernah menyesal menjadi simpatisannya.
Mulai berangkat hingga pulang, saya hanya bisa berucap “Terimakasih, cerita hari ini, PKS”
Karawang, 16 Maret 2014
Fathia Asyafiqah
http://www.fathiasyafiqah.com
Labels:
Kisah Nyata,
PKS
Monday, 10 March 2014
SPG Kesal Terhadap Kader PKS
Sales Promotion Girl (SPG) rokok kesal ketika menawarkan dagangan rokoknya kepada para kader PKS (Partai Keadilan Sejahtera) yang sedang menunggu rombongan apel siaga di Gedung Guru Matland Tambung, Kabupaten Bekasi (8/3/14)
Lebih dari 10 orang yang ada disitu ditawarkan rokok oleh SPG yang tampak membawa tas hitam penuh berisi rokok. Namun tak satupun yang mau membeli dagangannya sampai hari menjelang petang. Saking keselnya dia sampai penasaran, kenapa orang-orang ini kok tidak mau beli rokok? Selidik punya selidik ternyata semua yang nongkrong disini orang-orang PKS yang lagi menunggu acara apel siaga dimulai.
"Saya memang dulu perokok mba, tapi sudah lebih dari 10 tahun ini sudah tidak lagi", ujar salah satu kader PKS dipinggir jalan yang sedang asyik ngobrol ketika ditanya oleh SPG tersebut.
Ternyata SPG rokok ini salah sasaran, dia tidak tau kalo kader-kader PKS berbeda dengan kader Partai lain yang merokok di anggap biasa. (hs/www.pksciktim.org)
Labels:
Kisah Nyata,
PKS
Saturday, 8 March 2014
Beginilah Kelakuan Anak Menteri Syiah Iraq
Sebuah pesawat komersial milik maskapai Middle East Airlines (MEA) dari Lebanon menuju Irak, Kamis (6/3/2014), terpaksa kembali ke Lebanon karena putra Menteri Transportasi Irak tertinggal penerbangan itu.
Begitu mengetahui dirinya tertinggal, Mahdi al-Amir, menelepon Baghdad dan meminta agar pesawat MEA itu kembali ke Lebanon dan menjemputnya.
Pejabat direktur MEA, Marwan Salha, mengatakan bahwa pesawat tersebut dijadwalkan terbang pada pukul 12.40 dan terlambat enam menit karena staf MEA harus mencari Mahdi terlebih dahulu.
“Kami sudah mengumumkan nama penumpang hingga ke panggilan terakhir. Pesawat akhirnya tinggal landas. Namun, satu penumpang yang tertinggal ternyata anak seorang menteri Irak,” ujar Salha.
Salha mengatakan, begitu tiba di gerbang keberangkatan dan mengetahui pesawat itu terbang tanpa dirinya, Mahdi sangat marah. “Saya tidak akan mengizinkan pesawat itu mendarat di Baghdad,” kata Salha, menirukan Mahdi.
Setelah terbang selama 20 menit, manajer bandara Baghdad menghubungi MEA dan mengatakan bahwa pesawat itu tak diizinkan mendarat. Pesawat akhirnya terpaksa kembali ke Beirut. “Hal ini sangat mengganggu karena ini adalah murni nepotisme,” ujar Salha.
Kementerian Transportasi Irak mengakui, pesawat MEA itu kembali ke Lebanon. Namun, hal itu disebabkan adanya perbaikan bandara, dan putra Hadi al-Amiri itu memang tidak tercatat sebagai penumpang pesawat tersebut.
Namun, seorang pejabat di bandara Baghdad yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan, arus lalu lintas udara di atas kota itu normal dengan 30 pendaratan pada Kamis (6/3/2014). Satu-satunya pesawat yang tak jadi mendarat hanyalah MEA dari Beirut.
Menteri Transportasi Irak Hadi al-Amiri adalah Ketua Organisasi Badr, sebuah milisi bersenjata Syiah dan sekutu politik PM Nuri al-Maliki. Sebagian besar warga Irak mengatakan, kerabat para pejabat tinggi negeri itu kerap bertindak seenaknya dan tidak tersentuh hukum.
Kelakuan Mahdi ini menjadi bahan olok-olok di media sosial. “Sepertinya Uday dan ayahnya bangkit dari kuburnya,” kata seorang pengguna Twitter bernama Diana, yang merujuk pada mendiang Saddam Hussein dan putranya, Uday.(fimadani)
Labels:
Kisah Nyata
Friday, 7 March 2014
Anak Super Dahsyat di Kampung Sederhana Mesir
Salah satu acara Wisata Quran yang dipandu oleh Syeikh Fahd Al Kandari, berkunjung ke Mesir untuk menemui seorang anak yang sangat luar biasa.
Sebagaimana diketahui, melalui program Wisata Quran, Syeikh Fahd Al Kandari, yang memandu acara ini sering berkeliling ke sejumlah negara muslim untuk menyaksikan dan menemui para tahfidz dan bagaimana pengembangan pengajaran Al-Quran di berbagai negara seperti di Mesir, Tunisia, Senegal, Indonesia, China, Qatar, dan Kuwait.
Program Wisata Quran bergerak menuju kecamatan “Manshiat Nasr”. Sebuah kecamatan yang sederhana dan miskin. Miskin dan sederhana tetapi di dalamnya tinggal seorang anak yang luar biasa, namanya Syarif Sayyid Mustafa, seorang hafidz Al-Qur’an yang masih berusia 12 tahun.
Dia benar-benar anak yang luar biasa, jenius. Kenapa? Karena dia tidak hanya luar biasa dalam Al-Qur’an. Dia juga hafal Al-Qur’an, belajar qiro’ah shugra (bacaan kecil) dan qiro’ah kubra (besar).
Dia memiliki banyak kelebihan. Di antaranya mampu menghafal Kitab Hadits al Bukhari dan Muslim.
“Bi’idznillah (dengan izin Allah) pada pertemuan ini, di mana saya sangat bahagia. Begitu juga kalian bi’idznillah akan bahagia dan mengambil banyak manfaat serta pengaruhnya akan sangat besar terhadap kalian bersama syarif,” demikian kutip Syeikh Fahd Al Kandari.
Inilah petikan wawancara anak luar biasa itu dengan Syeikh Fahd al Kandari.
Syeikh Fahd: Bagaimana kabar Anda, Syeikh Syarif?
Syarif: Kami lebih bahagia dari kalian. Barakallaahu fiik. Alhamdulillah saya baik
Syeikh Fahd: Bisakah Anda menceritakan nama lengkap Anda?
Syarif: Nama saya Syarif Sayyid Mustafa Hassanin. Dengan karunia Allah, aku memulai perjalanan dengan Al-Quran, yaitu dengan menghafalnya pertama kali.
Pada waktu itu aku masih berumur tiga tahun. Dari usia tiga tahun sampai tujuh setengah tahun, pada waktu itu aku hanya mampu menghafal 4 juz. Setelah itu dari umur tujuh tahun setengah sampai tujuh tahun delapan bulan, yaitu selama tiga bulan, dengan karunia Allah aku telah mengkhatamkan Al Qur’an semuanya.
Syeikh Fahd: Jadi Anda mengkhatamkannya hanya dalam waktu tiga bulan?
Syarif: Iya
Syeikh Fahd: Bagi kita, mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu tiga bulan dengan sempurna tentu tidaklah mudah. Contohnya saya, menghahafal Al-Qur’an selama satu tahun tujuh bulan. Semua orang yang menghafal Al-Qur’an menghabiskan waktu dua tahun atau dua setengah tahun akan tetapi Syarif menghafal Al-Qur’an hanya dalam waktu tiga bulan.
Syeikh Fahd: Anda, wahai Syeikh Syarif, mulai menghafal Al-Qur’an sejak usia tiga tahun.
Syarif: Iya
Syeikh Fahd: Dari umur tiga tahun sampai tujuh setengah tahun Anda hanya hafal 4 juz. Ini sangat sedikit.
Syarif: Iya tentu
Syeikh Fahd: Akan tetapi, apa yang terjadi setelah usia tujuh tahun, Anda sangat berbeda dengan watu tiga bulan? Hal itu membuat Anda mampu menghafal Al-Qur’an semuanya. Apa yang terjadi dengan tiga bulan ini?
Syarif: Baarakallaahu fiik. Saya tentu pada awal mulanya karena peran orangtua. Tentu seorang ibu itu membuat anaknya menjadi baik, karena ibu merupakan madrasah (tempat belajar).
Syeikh Fahd: Baarakallaahu fiik
Syarif: Beliau adalah orang yang pertama membimbing saya. Beliau menyemangati saya untuk belajar kepada Syeikh di sekolah Al-Qur’an. Beliau sendirian yang membantu saya, karena aya saya punya bisnis. Jadi ayah saya tidak punya waktu senggang kecuali sedikit. Ayah juga membantu saya, tapi hanya sedikit. Pada suatu malam, di bulan yang keenam, kami ada acara haflah (pesta) di sekolah yang diadakan untuk para siswa penghafal Al-Qur’an yang lulus dari sana.
Tentu saja pada waktu itu saya hanya hafal empat juz dan aku tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan penghargaan. Akan tetapi saya memiliki kemampuan berceramah dan menyampaikan syair. Jadi Syeikh memberiku 22 bait syair lalu berkata kepadaku; ”Kamu punya waktu dua jam sampai nanti selesai jadwal sekolah untuk menghafal. Lalu pulang dan sisanya disempurnakan di rumah bersama ayahmu. Besok datang ke sini kamu harus sudah hafal,” ujar beliau.
Kemudian saya mojok dan menghadapkan wajah saya ke dinding lalu mulai menghafal. Akhirnya aku selesai menghafalannya dalam waaktu setengah jam.
Syeikh Fahd: Dalam setengah jam 22 bait syair?
Syarif: Iya
Syeikh Fahd: MasyaAllah
Syarif: Kemudian saya menghadap Syeikh dan berkata kepadanya, ”Saya sudah selesai menghafal syair itu.” Syeikh berkata kepadaku ”Ttidak mungkin”. Beliau ragu dengan pernyataan saya.
Syeikh Fahd: Sampai beliau menyimak Anda?
Syarif: Iya, sampai beliau menyimak saya membacakan syair itu untuk beliau. Beliau melihat kebaikan pada diri saya. Kemudian beliau mengirim surat kepada ayah saya dan menjelaskan kepadanya, Anakmu telah diberikan suatu kelebihan oleh Allah Ta’ala dan Allah memilihnya dengan kelebihan ini, yang mana kelebihan ini tidak diberikan kepada seseorang atau diberikan kepada sedikit manusia. Dan Allah memilih mereka dengan kelebihan tersebut. Kelebihan tersebut adalah kekuatan dalam menghafal.
Maka perhatikanlah kelebihannya dan kembangkanlah. Sekarang dia mampu menghafalkan sesuatu yang seharusnya dihafal dua jam, dia hafal dalam waktu setengah jam. Sangat mungkin nanti ke depannya, sesuatu yang seharusnya dihafal dalam waktu lama, dia hafal dalam waktu cepat,” demikian ujar beliau.
Syeikh Fahd: Apakah Al-Qur’an lebih mudah daripada syair?
Syarif: Tentu. Allah berfirman:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ
”Dan sungguh telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran”. (QS: Al Qamar [54]: 22). Maka Al Qur’an adalah kitab samawi yang paling mudah.
http://www.hidayatullah.com/read/2014/03/07/17742/anak-super-dahsyat-di-kampung-sederhana-mesir.html
Labels:
Kisah Nyata
Subscribe to:
Posts (Atom)











